CAKRAWALA BAHASA - Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan sejarah, identitas, pengetahuan, dan warisan budaya suatu masyarakat. Namun, di tengah pesatnya globalisasi, ribuan bahasa di dunia kini menghadapi ancaman kepunahan.
Menurut data Ethnologue yang dikutip Al Jazeera, saat ini terdapat lebih dari 7.000 bahasa yang digunakan di seluruh dunia. Sayangnya, sekitar 3.000 bahasa atau hampir 40% di antaranya berada dalam kondisi terancam punah (Al Jazeera, 2026). Sementara itu, hanya sebagian kecil bahasa yang memiliki status kuat dan digunakan secara luas dalam pemerintahan, pendidikan, maupun media massa.
Bahasa Inggris masih menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di dunia dengan sekitar 1,5 miliar penutur di 186 negara. Diikuti oleh Mandarin, Hindi, Spanyol, dan Arab yang juga memiliki ratusan juta penutur. Dominasi bahasa-bahasa besar ini secara tidak langsung membuat banyak bahasa lokal semakin jarang digunakan oleh generasi muda.
Sebuah bahasa mulai terancam ketika masyarakat penuturnya berhenti mewariskan bahasa tersebut kepada anak-anak mereka. Dalam banyak kasus, generasi muda lebih memilih menggunakan bahasa yang dianggap memiliki nilai ekonomi, pendidikan, atau sosial yang lebih tinggi.
Akibatnya, banyak bahasa hanya digunakan oleh kelompok usia lanjut dan perlahan kehilangan penuturnya. Saat ini terdapat lebih dari 1.400 bahasa yang memiliki kurang dari 1.000 penutur asli, bahkan lebih dari 100 bahasa hanya memiliki kurang dari 10 penutur yang tersisa (Al Jazeera, 2026).
Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia. Di Australia, bahasa Yugambeh yang digunakan oleh masyarakat Aborigin berhasil dipertahankan melalui program revitalisasi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran digital. Di Jepang, meskipun bahasa Jepang banyak diminati untuk dipelajari namun sala satu bahasa daerahnya yaitu Ainu berada dalam kondisi kritis dengan jumlah penutur yang sangat terbatas. Di Ethiopia, bahasa Ongota hanya dituturkan oleh segelintir orang tua dari komunitas yang jumlahnya semakin sedikit. Sementara itu di Inggris, bahasa Cornish yang sempat dinyatakan punah berhasil dihidupkan kembali melalui berbagai program pelestarian bahasa dan budaya.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa bahasa dapat hilang, tetapi juga dapat diselamatkan apabila ada komitmen dari masyarakat, lembaga pendidikan, dan generasi muda. Setiap bahasa menyimpan cara pandang unik terhadap dunia. Ketika sebuah bahasa punah, bukan hanya kosakata yang hilang, tetapi juga cerita rakyat, nilai budaya, tradisi, hingga pengetahuan lokal yang diwariskan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Karena itu, mempelajari bahasa tidak hanya membuka peluang komunikasi global, tetapi juga membantu menjaga keberagaman budaya dunia. Semakin banyak bahasa yang kita pelajari dan hargai, semakin besar pula kontribusi kita dalam melestarikan warisan kemanusiaan.
Sebagai lembaga pendidikan bahasa dan budaya global, Cakrawala Bahasa percaya bahwa setiap bahasa memiliki nilai dan keindahan yang patut dipelajari. Melalui program pembelajaran lebih dari 25 bahasa dunia, peserta tidak hanya menguasai kemampuan berbahasa, tetapi juga memahami budaya, sejarah, dan karakter masyarakat dari berbagai negara. Dengan pendekatan interaktif dan pembelajaran berbasis praktik, Cakrawala Bahasa membantu generasi muda menjadi warga dunia yang siap berkomunikasi lintas budaya sekaligus menghargai keberagaman bahasa yang ada.